Mengapa Foodpanda dan Beberapa Start-up Lain Gagal?

Reporter: Ign. L. Adhi Bhaskara
04 Oktober 2016

Tumbangnya Foodpanda Senin lalu telah menambah deretan start-up yang sebelumnya juga telah gagal di Indonesia, seperti Rakuten misalnya. Padahal, start-up lain bisa sukses. Apa penyebabnya?

tirto.id - Mulai Senin kemarin, Foodpanda resmi mengakhiri layanannya di Tanah Air. Berita buruk itu disampaikan Jumat lalu melalui selembar surat pemberitahuan yang ditandatangani oleh Managing Director Foodpanda Indonesia, Victor Delannoy.

Surat itu menyatakan dengan berakhirnya pelayanan Foodpanda, maka perusahaan tersebut mematikan situsweb mereka beserta aplikasi mobile-nya, selain memutuskan kerja samanya dengan seluruh mitra restoran serta mitra marketing-nya.

Berdiri pada 2012, Foodpanda sesungguhnya memiliki awal yang cukup menjanjikan di Indonesia. Mereka terus memperluas ekspansi bisnisnya. Tak berhenti di Jabotabek, Foodpanda beroperasi juga di Bali, Bandung, Makassar, dan Medan. Terakhir, pada 2015 lalu, start-up ini menghadirkan layanannya di Surabaya.

Juan Chene, managing director Foodpanda Indonesia pada 2013 pernah mengatakan, "Sebagai start-up kita tidak berbicara tentang angka pengiriman aktual saat ini. Tapi kami maju dengan cepat dan kami terutama melihat potensi besar dalam kehidupan mobile: Hanya sesaat setelah peluncuran aplikasi mobile kami, sekitar 25% persen dari pesanan sudah datang dari smartphone atau tablet."

Namun kehadiran layanan serupa pada daftar layanan yang disediakan oleh start-up ride-hailing seperti Go-Jek dan Grab membuat Foodpanda kelimpungan. Dalam laporan The Jakarta Post, Foodpanda mengakui hal tersebut.

Sempat mengumumkan akan menjual bisnis mereka dengan harga sekitar $1 juta, Foodpanda akhirnya menyerah setelah usahanya itu tidak menunjukkan titik cerah. Perusahaan yang disokong oleh Rocket Internet itu memang sebelumnya mengatakan akan fokus pada pasar yang terbukti telah memberikan transaksi dan keuntungan bagi perusahaan, di antaranya Eropa Timur dan Timur Tengah.

Foodpanda tidak sendiri. Tahun ini setidaknya terdapat beberapa perusahaan start-up yang sedang kelimpungan bahkan menutup usahanya, di antaranya YesBoss, HaloDiana, Shopious, Jade, Coral, Ensogo, Rakuten, dan OpenRice.

Pada kasus YesBoss, mereka dikabarkan akan melakukan pivot dari layanan asisten pribadi virtual dengan model business to consumer menjadi business to business (B2B). Pivot merupakan sebuah istilah yang cukup familier di dunia start-up, di mana perusahaan sedang mempersiapkan untuk berpindah rencana bisnis dari A ke B karena model bisnis A tidak berjalan baik.

"Kita perlu membuat beberapa penyesuaian pada jam operasi kami sebab kami sedang mempersiapkan sesuatu yang baru," kata CEO YesBoss Irzan Raditya, seperti dikutip e27, ketika ditanya mengapa perusahaan tersebut mengumumkan perubahan jam operasi dan rencana hiatus mereka.

Bisnis layanan asisten pribadi virtual lewat Short Messaging Service (SMS) seperti yang disediakan YesBoss memang sepertinya kurang menjanjikan. HaloDiana, kompetitor YesBoss, bahkan sudah menutup layanan mereka pada April lalu.

Sementara itu, Shopious, Ensogo, Coral, Rakuten, Jade adalah start-up yang terjun langsung di bidang e-commerce. Mereka seperti kesusahan untuk bersaing, terutama dengan kompetitor di market serupa seiring dengan makin sesaknya start-up yang terjun dalam kelompok ini.

Pertama adalah Rakuten yang menutup layanannya pada Maret tahun ini. Bulan berikutnya, Shopious menyusul. Ensogo di bulan Juni juga mengumumkan menarik diri dari Asia Tenggara. Sementara Jade, menurut laporan DailySocial, telah mengumumkan penutupan layanannya dalam waktu yang tidak dapat ditentukan. Coral, di sisi lain, tampaknya sedang dalam proses transisi rebranding, meski belum terkonfirmasi.

Pada 2015, seperti diberitakan Tech in Asia, setidaknya terdapat 7 start-up Indonesia yang gagal, salah satunya adalah Valadoo, situs penyedia paket wisata untuk destinasi Indonesia.

Mengapa start-up gagal?

Start-up seolah menjadi primadona dalam dunia bisnis saat ini, tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia. Popularitas itu ada karena sejumlah perusahaan start-up mampu berkembang menjadi sangat besar dan bahkan mampu mengubah dinamika dunia bisnis dalam proses pengembangannya. Uber adalah contoh yang paling mudah dalam kasus ini.

Suksesnya perusahaan semacam Uber maupun Google memberi anggapan bahwa mendirikan start-up adalah bisnis yang sangat menjanjikan. Tapi kenyataannya tidak sesederhana yang ada di permukaan.

Seperti diwartakan Fortune, di Silicon Valley, pusat dan simbol kesuksesan perusahaan start-up di seluruh dunia, terdapat ungkapan umum bahwa 9 dari 10 perusahaan start-up mengalami kegagalan. Ungkapan ini adalah kristalisasi pengalaman para pendiri start-up yang menggambarkan betapa kerasnya perjuangan untuk membangun sebuah start-up.

Menurut laporan CBInsights, sebagian besar start-up gagal karena mereka tidak dapat melayani apa yang dibutuhkan oleh pasar. Sebanyak 42 persen dari 101 tulisan dari para founder perusahaan start-up menyatakan hal tersebut.

Sementara itu, 29 persen menyebutkan bahwa banyak dari perusahaan start-up kehabisan dana. Sisanya bervariasi, mulai dari tim yang tidak tepat, produk yang buruk, tersingkir oleh pesaing yang lain, hingga gagal melakukan pivot.

Dalam kasus start-up di Indonesia, analisis dari laporan CBInsights itu terbukti. Banyak perusahaan start-up yang gagal di Indonesia memiliki konsep bisnis yang terfokus pada "menyelesaikan masalah yang menarik untuk diselesaikan," bukan memfokuskan pada apa yang dibutuhkan oleh pasar.

Foodpanda termasuk ke dalam perusahaan yang gagal mengidentifikasi pasar Indonesia. Masyarakat Indonesia pada umumnya tidak membutuhkan layanan pesanantar yang menjaga kualitas makanan seperti yang dilakukan oleh Foodpanda dengan menyediakan kotak penyimpanan khusus selama perjalanan dan membatasi jangkauan pengantaran, yakni 25 kilometer.

Masyarakat Indonesia lebih menyukai banyaknya variasi makanan yang dapat dipilih, serta tidak terbatasnya jangkauan pengantaran seperti yang dilakukan oleh Go-Jek dalam layanan Go-Food miliknya.

Selain itu, seperti dikutip dari Tech in Asia, salah satu problem mendasar dari layanan pesan-antar makanan di Indonesia adalah kecilnya jumlah pesanan yang dilakukan oleh para pengguna layanan. Karena masyarakat Indonesia cenderung memesan makanan dalam jumlah kecil, maka untuk menutup biaya operasional perusahaan harus bisa meningkatkan jumlah pemesanan. Hal itu gagal dipenuhi oleh Foodpanda, sebab mereka mengharuskan minimum nilai pemesanan dalam layanannya.

Tantangan bagi Presiden Jokowi

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah mengatakan bahwa ia punya mimpi Indonesia dapat mengambil peran dalam tren perubahan ekonomi dunia yang saat ini, yang mulai bergeser pada ekonomi digital. Sebab, lanjutnya, Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan ekonomi digital. Negara ini juga berpotensi pasar ekonomi digital yang besar karena jumlah penduduknya 250 juta, dan 93,4 juta di antaranya adalah pengguna internet.

Jokowi sendiri telah menegaskan pada bulan September lalu bahwa Indonesia akan mendorong deregulasi besar-besaran untuk mengembangkan industri e-commerce di Indonesia.

"Saya minta segera dilakukan percepatan implementasi karena kalau tidak segera kita kejar kita akan tertinggal oleh negara-negara di sekitar kita," tegasnya, seperti dikutip dari laman resmi Sekretariat Kabinet.

Namun, hingga saat ini belum banyak yang berubah dalam tatanan industri e-commerce. Peta jalan (roadmap) e-commerce yang dijanjikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara belum juga diterbitkan. Sebab roadmap ini juga membutuhkan persetujuan dari sejumlah kementerian lain untuk diterbitkan.

Dengan banyaknya start-up bertumbangan seperti Foodpanda, seharusnya menjadi tamparan "dini" bagi pemerintahan dalam hal pengembangan industri digital Tanah Air. Industri digital berevolusi dengan cepat. Jika pemerintah Indonesia tidak mampu memfasilitasinya, berkembangnya ekonomi digital Indonesia hanya berhenti sebagai mimpi Jokowi.

Sejumlah start-up telah menutup bisnisnya di Indonesia.