3 dari 4

Kerbau Datang Membantu Sapi

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
08 September 2016

View non-AMP version at tirto.id

Setitik Hari Menambah Konsumsi Daging Mencari Akar Masalah Lonjakan Harga Daging Kembali ke Ikan

tirto.id - Setelah sekian lama berwacana, pemerintah akhirnya memperbolehkan daging kerbau impor asal India masuk juga ke Indonesia. Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mengkonfirmasi 700 ton daging kerbau India sudah masuk ke Indonesia.

Angka ini akan terus bertambah karena Kementerian Perdagangan sudah memberikan izin impor sebanyak 10 ribu ton pada periode Agustus – September. Sampai Desember nanti, Kementerian Pertanian berencana mendatangkan 80 ribu ton daging kerbau yang dilakukan secara bertahap. Daging kerbau India itu diharapkan bisa memenuhi stok kebutuhan daging sampai Desember.

Produksi daging sapi menurut angka Kementerian Pertanian, memang belum bisa memenuhi total kebutuhan hingga akhir tahun. Total kebutuhan daging sapi dari Agustus hingga Desember 2016 sebesar 662,3 ribu ton. Sementara itu, perkiraan ketersediaan hanya daging sapi lokal sebesar 441,8 ribu ton.

Solusinya otomatis adalah membuka keran daging sapi beku impor. Tapi hal ini tak menjamin harga daging sapi turun, karena masyarakat lebih suka daging sapi segar ketimbang daging beku. Padahal, harga daging beku impor sudah lebih murah. Solusi lain yang diambil pemerintah adalah dengan mendatangkan daging kerbau yang harganya jauh lebih murah.

"Sekarang harga daging sapi Rp120 ribu per kg, waktu itu kita coba dengan impor dari Australia Rp85 ribu per kg, ternyata itu masih berat. Sekarang kita cari alternatif lain, daging kerbau Rp65 ribu per kg, ini hampir setengah harga di pasaran,” ucap ucap Menteri BUMN, Rini Soemarno dikutip dari Antara.

Sementara itu, Direktur Pengadaan Perum Bulog Wahyu menjelaskan anasir lain. Impor dari India ini dilakukan karena pemerintah harus menutupi ancaman kekosongan stok akibat peminat daging sapi Australia yang begitu tinggi. "Daging kerbau India diprogramkan karena kami khawatir pasokan dari Australia berkurang. Bulog saat ini sedang mencari sumber pasokan baru, daging sapi dari Brazil dan Argentina.”

“Tapi itu memerlukan waktu, tidak singkat, prosesnya berbulan-bulan. Makanya kita siapkan dengan daging kerbau India dulu,” kata Wahyu.

“Meski datanglah daging kerbau dari India, pasokan daging sapi Australia dan Selandia Baru tetap berjalan dan dijual maksimal Rp 80 ribu.  Sementara daging kerbau dijual maksimal seharga Rp 65 ribu. Ini sebagai alternatif bagi masyarakat, jika ingin sapi ada, ingin kerbau juga ada,” ucap Dirut Bulog Djarot Kusumayakti.

Sebagai pendistributor resmi daging kerbau ini, Bulog mengatakan harga yang dijual pada partai besar yang minimal 50 ton adalah 56 ribu, sedang partai menengah seharga Rp 60 ribu dan eceran Rp 65 ribu.

Niat baik pemerintah untuk memberikan kesempatan pada rakyatnya untuk mendapat protein hewani memang patut diapresiasi. Namun, banyak pihak mengkritisi daging kerbau sebagai penggantinya. Apalagi kerbaunya berasal dari India. Inilah yang menjadi masalah.

Saat Menteri Pertanian Amran Sulaiman mencanangkan wacana impor daging kerbau ini pada Juli lalu, Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI) sudah mencak-mencak tidak terima. Alasannya, berdasarkan Resolusi No.15 OIE Mei 2016, India saat ini masuk dalam kategori negara yang belum bebas PMK baik untuk negara maupun zona.

"Kami Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia meminta dengan sangat kepada Pemerintah agar menunda pemasukan daging kerbau dari India atau setidaknya menunda distribusi daging kerbau tersebut ke pasar," kata Ketua PPSKI, Teguh Boediyana, pada 12 Juli lalu

"Karena masuknya penyakit hewan yang sangat berbahaya tersebut di wilayah Negara kita mengancam pada ternak sapi dan kerbau, juga ternak berkuku genap lainnya seperti kambing, domba dan babi," katanya.

Meski begitu pemerintah bersikeras melanjutkan kebijakan ini. Rini dan Djarot menjamin daging kerbau dari India dijamin bebas penyakit karena telah melalui uji pemeriksaan di Badan Karantina Kementerian Pertanian dan telah dinyatakan halal oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

"MUI bahkan sudah ke India langsung untuk melihat langsung dan sudah ada sertifikasi halal-nya. Saat saya coba, dagingnya tidak keras, pokoknya sip,” ucap Rini.

Hal senada dialami Muhyidin Djunaedi, Ketua MUI bidang Luar Negeri yang ikut serta ke India melakukan pengecekan itu. “Saya pikir semuanya clear, proses penyembelihannya juga sudah sesuai dengan syari. Karena itu saya jamin daging kerbau dari India halal,” katanya kepada tirto.id.

Meski demikian, masyarakat ternyata tak terlalu antusias menyambut daging kerbau ini. Di beberapa pasar, para pedagang enggan menjual daging kerbau karena sepi peminat. Karakteristik daging kerbau memang kurang gurih jika dimasak. Selai itu, tekstur daging kerbau lebih keras dan berbau.

Sikap masyarakat ini pada ujungnya jadi kebijakan pemerintah daerah untuk menolak daging kerbau. Pemprov DI Yogyakarta misalnya, mereka sudah memastikan tidak akan mengambil kuota impor daging kerbau itu meskipun secara kebutuhan daging mereka mengalami defisit.  "Yang jelas, masyarakat DIY ini sedikit sekali yang menghendaki daging kerbau. Kami tidak akan mengambil kuota daging, kami takut tidak ada yang mengkonsumsi," kata Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko.

Dia malah berharap Kementan tidak membagi daging Kerbau itu ke Yogyakarta.

"Masyarakat DIY sudah terbiasa mengkonsumsi daging sapi segar, masyarakat sedikit yang mengkonsumsi daging kerbau. Sebaiknya, tidak usah dimasukkan ke kerbau," katanya.

Kebijakan sama juga diambil Pemerintah Provinsi Banten. Berbeda dengan Yogya, Banten menolak daging kerbau impor karena wilayah tersebut populasi Kerbau relatif banyak. "Saya atas nama Pak Gubernur Banten tidak akan menerima kalau Jakarta memberikan jatah daging kerbau Impor dari India, karena persediaan kita sangat-sangat banyak," kata Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan, Banten, Agus M Tauchid.

Agus berharap pemerintah pusat mengirimkan sapi bukan kerbau, karena Banten memang masih kekurangan daging sapi. Terkait program subtitusi pemerintah pusat mengganti sapi dengan kerbau ini dirasa Agus kurang tepat. “kalaupun nanti kita dikasih kuota tentunya akan kami tolak," kata Agus.

Sebelum Yogya dan Banten, beberapa provinsi lain seperti Jawa timur, NTB, NTT menolak kedatangan daging kerbau ini. Jika mengacu pada statistik Kementan, daging kerbau laris hanya di sebagian provinsi di Sumatera, Jawa Barat, Banten, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan saja. Di luar dari provinsi itu, tingkat konsumsi kerbau sangat kecil. Alhasil, kebijakan mendatangkan kerbau untuk menurunkan harga sapi bisa jadi sesuatu hal yang tidak efektif.

Indonesia akan mendatangkan 80 ribu ton daging kerbau dari India