Glasnost dalam Sejarah Uni Soviet, Tujuan, & Siapa Pencetusnya?

Kontributor: Yuda Prinadatirto.id - 06 Sep 2022 21:50 WIB
Diperbarui 07 Sep 2022 08:04 WIB

View non-AMP version at tirto.id

Apa tujuan Glasnost, siapa pencetusnya, dan apakah menjadi penyebab runtuhnya Uni Soviet pada 1991?

tirto.id - Glasnost merupakan salah satu kebijakan yang paling terkenal dalam sejarah Uni Soviet. Lantas, apa tujuan diterapkannya Glasnost, siapa pencetusnya, dan apakah kebijakan ini menjadi salah satu penyebab runtuhnya Uni Soviet pada 1991?

Uni Soviet atau Union of Soviet Socialist Republics (USSR) merupakan negara yang berpaham Sosialisme-Marxis. Segala pengelolaan tekait ekonomi maupun kehidupan sosial-budaya di Uni Soviet diatur oleh negara.

Pendirian Uni Soviet berawal dari aksi Vladimir Lenin yang berperan aktif dalam Perang Sipil Rusia dan Revolusi Rusia. Pada 1917, Lenin bersama partai atau kelompok “Pasukan Soviet” merencanakan pembuatan negara baru.

Pada 30 Desember 1922, Uni Soviet berdiri dan dipimpin oleh Lenin. Selain Rusia, Uni Soviet terdiri dari beberapa negara atau bangsa seperti Ukraina, Georgia, Belarusia, Armenia, Azerbaijan, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Turkmenistan, Moldova, Latvia, Tajikistan, Estonia, dan Lithuania.

Siapa Pencetus Kebijakan Glasnost di Uni Soviet?

Vladimir Lenin hanya 2 tahun memimpin Uni Soviet. William Clark dalam Lenin: The Man Behind the Mask (1988) menuliskan, Lenin wafat pada 1924 lantaran kondisi kesehatannya yang menurun akibat luka tertembus peluru ditambah serangan stroke.

Setelah Lenin tiada, kepemimpinan Uni Soviet -dengan berbagai dinamikanya- dipegang secara berturut-turut oleh Joseph Stalin (1924-1953), Georgy Malenkov (1953), Nikita Kruschev (1953-1964), Leonid Breshnev (1964-1982), dan Yuri Andropov (1982-1984), hingga Mikhail Gorbachev sejak 1985.

Sejak Perang Dunia II berakhir pada 1945 yang kemudian berlanjut selama berpuluh-puluh tahun ke depan, Uni Soviet menjadi salah satu pusat kekuatan terbesar di dunia sebagai ikon dari Blok Timur dan bersaing ketat dengan Amerika Serikat dari Blok Barat.

Persaingan kedua kutub semesta ini berlangsung cukup lama dan disebut sebagai Perang Dingin. Ketika Mikhail Gorbachev memimpin, Perang Dingin antara Uni Soviet melawan Amerika Serikat masih terjadi.

Gorbachev kemudian mencetuskan sejumlah kebijakan saat memimpin Uni Soviet, salah satunya adalah Glasnost. Diterapkannya Glasnost justru ditengarai menjadi salah satu penyebab runtuhnya Uni Soviet yang benar-benar berakhir pada 1992.

Pengertian Glasnost, Tujuan, dan Dampaknya Bagi Uni Soviet

Selama Perang Dingin berlangsung, terjadi persaingan seru antara Amerika Serikat melawan Uni Soviet di segala bidang, dari ekonomi, teknologi, militer, sosial-budaya, dan masih banyak lagi.

Perang Dingin ternyata membuat perekonomian negara Uni Soviet di masa kepemimpinan Mikhail Gorbachev bermasalah. Hal itu terjadi karena Uni Soviet harus mengeluarkan banyak uang untuk bersaing dengan Amerika Serikat.

Tidak hanya urusan keuangan, juga terjadi permasalahan lain berupa rumitnya birokrasi pemerintahan, terlambatnya produktivitas, dan pertikaian dengan negara lain.

Menghadapi situasi tersebut, Mikhail Gorbachev menerapkan reformasi. Reformasi tersebut berisi kebijakan yang salah satunya menyebutkan tentang Glasnost atau "Keterbukaan".

Dikutip dari Milestones in Glasnost and Perestroyka: Politics and People (1991) suntingan Edward A. Hewett dan Victor H. Winston, Glasnost diartikan sebagai peningkatan keterbukaan dan transparansi dalam lembaga dan kegiatan pemerintah di Uni Soviet.

Glasnost mencerminkan komitmen pemerintahan Gorbachev untuk mengizinkan warga Uni Soviet mendiskusikan secara terbuka masalah sistem mereka dan solusi potensial.

Pemerintahan Gorbachev juga mendorong pengawasan dan kritik terhadap para pemimpin, bahkan membuka kebebasan pers pada tingkat tertentu. Dengan keterbukaan ini, Mikhail Gorbachev mengharapkan adanya kemajuan ekonomi serta transparansi pemerintahan.

Akan tetapi, kebijakan ini justru membawa Uni Soviet ke permasalahan lain, seperti tidak majunya ekonomi, perseteruan dengan kelompok sosialis konservatif, dan masuknya ideologi kapitalisme.

Lebih dari itu, pemerintahan Mikhail Gorbachev bahkan pernah mengalami percobaan kudeta dari kelompok konservatif kendati upaya tersebut gagal.

Situasi yang semakin memburuk membuat Mikhail Gorbachev turun dari tampuk kepemimpinan tertinggi Uni Soviet pada 24 Agustus 1991.

Mundurnya Mikhail Gorbachev tak pelak menimbulkan keguncangan. Beberapa negara yang tergabung dalam Uni Soviet satu per satu melepaskan diri.

Akhirnya, Uni Soviet resmi dinyatakan bubar pada 31 Desember 1991. Hari itu sekaligus menandai berakhirnya Perang Dingin yang menempatkan Amerika Serikat sebagai pemenang.

Baca juga artikel terkaitUni Sovietatau tulisan menarik lainnyaYuda Prinada
(tirto.id - prd/isw)

Kontributor: Yuda Prinada
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Iswara N Raditya